8/28/14

What's "Analis Kesehatan"..???

Siapa itu Analis Kesehatan ...?? hingga saat ini masyarakat masih belum banyak mengetahui siapa itu Analis mantri),  farmasi dan bidan saja. Padahal masih banyak profesi tenaga kesehatan yg lainnya, ANALIS KESEHATAN salah satunya. Tenaga  kesehatan yang satu ini masih “asing” dan belum familiar di masyarakat.
Kesehatan. Banyak yang menganggap tenaga kesehatan itu hanya dokter, perawat (

Siapa Analis Kesehatan itu?
Analis Kesehatan atau disebut juga Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan adalah tenaga kesehatan dan ilmuan berketerampilan tinggi yang melaksanakan dan mengevaluasi prosedur laboratorium dengan memanfaatkan berbagai sumber daya(KEPMENKES RI NOMOR 370/MENKES/SK/III/200)
Di Indonesia memang lebih sering digunakan dan dikenal istilah Analis Kesehatan daripada Ahli Teknologi Labkes. Sedangkan di dunia internasional contohnya di Kanada dan US menggunakanMedical Laboratory Technologist/Scientist, di UK Biomedical Scientist, di Jepang Rinshoukensagishi. Meskipun berbeda nomenkelatur, tapi secara garis besar tugas dan pekerjaannya sama.

Apa itu Teknologi Laboratorium Kesehatan?
Teknologi Laboratorium Kesehatan (internasional: Medical Laboratory Science/Technology) adalah disiplin ilmu kesehatan yang memberikan perhatian terhadap semua aspek laboratoris dan analitik terhadap cairan dan jaringan tubuh manusia serta ilmu kesehatan lingkungan.(KEPMENKES RI NOMOR 370/MENKES/SK/III/200)

Tugas Analis Kesehatan
Analis kesehatan melakukan beragam tes (Hematologi, Kimia Klinik, Mikrobiologi, Imuno-serologi, Toksikologi, Kimia makanan-minuman, Kimia air, Patologi Anatomi, Biologi Molekuler) yang menggunakan instrumentasi untuk membantu diagnosis, mengobati dan mencegah penyakit. Tanggung jawabanya berupa mengumpulkan dan menyiapkan sampel seperti darah, cairan tubuh, jaringan juga menginterpretasi hasil. Seringkali bekerja secara independen namun analis kesehatan adalah bagian penting dari tim pelayanan kesehatan.
Analis kesehatan di Indonesia berbeda tugas dan kemampuannya. Tak hanya menunjang dalam analisis spesimen klinis, namun juga analisis benda non-abiotik seperti air, makanan, dan minuman.

Prospek Karir dan Kerja Analis Kesehatan
Banyak instansi dan perusahaan yang membutuhkan kompetensi seorang Analis Kesehatan,seperti:
Laboratorium Klinik Swasta
Rumah Sakit Pemerintah atau swasta
Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda)
Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)
Perusahaan di bidang makanan-minuman, farmasi.
Lab Forensik Kepolisian
Lembaga penelitian sains (LIPI, Biofarma)
Dosen (Terutama di sekolah ilmu kesehatan)
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)

Pendidikan Lanjutan
Setelah lulus akan dan mendapat gelar Amd. A.K. , dapat melanjutkan pendidikan ke S1 atau DIV. Contohnya:
S1 Ekstensi Kesehatan Masyarakat, Farmasi, Kimia Universitas Indonesia
S1 Kimia, Biologi, Kesma, di univeristas swasta
DIV Analis Kesehatan

Source : http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/01/10/siapa-apa-analis-kesehatan-429077.html

Pemeriksaan Golongan Darah

1.  Pemeriksaan Golongan Darah
a.  Prinsip
Golongan darah diindentifikasikan dengan melihat aglutinasi yaitu penggumpalan sel darah merah akibat reaksi antara antibodi dalam serum/plasma dengan antigen pada sel darah merah (Gandasoebrata, 2006).
b.  Alat - alat
Alat yang digunakan dalam pemeriksaan golongan darah adalah:
1)  Autoclik
2)  Lancet
3)  Slide

c.   Bahan - bahan
Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan golongan darah adalah:
1)  Reagen Anti A
2)  Reagen Anti B
3)  Kapas alkohol
d.  Cara kerja
1)  Bersihkan daerah jari yang ingin ditusuk dengan kapas alkohol.
2)  Darah kapiler diambil dari jari pasien dengan menggunakan autoclik.
3)  Darah pertama dibersihkan dan darah selanjutnya digunakan untuk pemeriksaan.
4)  Darah diletakkan pada objek gelas pada bagian kiri dan kanan.
5)  Teteskan darah yang kiri dengan reagen Anti A dan darah yang sebelah kanan diteteskan reagen anti B.
6)  Homogenkan.
7)  Dilihat adanya aglutinasi pada kedua tetesan tersebut dan dicatat hasilnya.


e.  Interprestasi Hasil
Interprestasi Hasil Golongan Darah
Keterangan :          
  • Golongan darah A : terdapat aglutinasi pada tetesan darah yang diberi reagen anti A
  • Golongan darah B : terdapat aglutinasi pada tetesan darah yang diberi reagen anti B
  • Golongan darah AB : terdapat aglutinasi pada tetesan  kedua darah tersebut
  • Golongan darah O : tidak ada aglutinasi pada kedua tetesan darah tersebut.
(Gandasoebrata, 2006).

Instruksi Kerja Pengambilan Darah Vena

a.      Pengertian        :    Tata cara pengambilan darah dari vena pasien.
b.      Tujuan                :    Agar pengambilan darah dari vena dapat dilakukan dengan baik dan benar.
c.      Kebijakan          :    Setiap analis yang melakukan sampling mampu melakukan pengambilan sampel darah vena dengan baik dan benar.
d.    Instruksi Kerja     :
1)    Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan, yaitu :
a)    Spuit injeksi 3 ml
b)    Botol penampung darah
c)    Karet pembendung
d)    Kapas
e)    Alkohol 70%
f)     Plester
2)    Mempersiapkan antikoagulansia, yaitu :
a)    Na-EDTA 10% (untuk pemeriksaan darah rutin)
b)    Na-Citrat 3,8% (untuk pemeriksaan PT dan APTT)

3)    Melakukan pengambilan sampel darah untuk pasien dari IRJA, IRNA, dan IRD dilakukan dengan cara sepeeti berikut :
a)    Darah diambil dari salah satu vena dalam fossa cubiti
b)    Bersihkan tempat yang akan diambil dengan alkohol 70% dan biarkan sampai kering
c)    Pasanglah ikatan pembendung pada lengan atas (tidak perlu terlalu erat) dan mintalah pasien untuk mengepal dan membuka tangannya berkali-kali agar vena terlihat jelas
d)    Tegangkanlah kulit di atas vena dengan jari-jari tangan kiri supaya vena tidak bergerak
e)    Tusuklah kulit dengan jarum dan semprit dengan tangan kanan sampai ujung jarum masuk ke lumen vena
f)     Lepaskan pembendungan dan perlahan-lahan tarik penghisap semprit sampai jumlah darah yang dikehendaki didapat
g)    Letakkan kapas di atas jarum lalu cabutlah semprit dan jarum tersebut
h)   Mintalah kepada pasien supaya tempat penusukan itu ditekan selama beberapa menit dengan kapas tadi
i)     Masukkan jarum ke alat penghancur jarum kemudian tutup, lepaskan dari semprit dan buang ke wadah buang jarum
j)      Alirkanlah (jangan disemprotkan) darah melaui dinding ke dalam botol penampung berisi EDTA (untuk pemeriksaan hematologi) atau tabung reaksi (untuk pemeriksaan kimia)
k)    Beri kode pada tabung berupa nomer urut, nama pasien serta tanggal pengambilan sampel.

Instruksi Kerja Pengambilan Darah Kapiler

a.      Pengertian            :    Tata cara pengambilan sampel darah dari kapiler pasien.
b.      Tujuan                :    Agar pengambilan darah kapiler dapat dilakukan dengan baik dan benar.
c.      Kebijakan          :    Setiap analis yang melakukan sampling mampu melakukan pengambilan sampel darah kapiler dengan baik dan benar.
d.      Instruksi Kerja   :    Pengambilan darah kapiler pada bayi-bayi baru lahir sering dilakukan di daerah tumit atau jari kaki. Jika kebutuhan darah sedikit, maka pengambilan darah pada anak kecil dapat dilakukan pada jari tangan ke-3 dan 4.
1)    Mempersiapkan alat-alat yang diperlukan, yaitu :
a)    Blood lancet
b)    Botol penampung darah
c)    Kapas
d)    Alkohol 70%
e)    Plester
2)    Mempersiapkan antikoagulansia, yaitu :
a)    Na-EDTA 10% (untuk pemeriksaan darah rutin)
3)    Melakukan pengambilan sampel darah untuk pasien dari IRJA, IRNA, dan IRD dilakukan dengan cara seperti berikut :
a)    Bersihkan lokasi pengambilan darah dengan alkohol 70%
b)    Tunggu sebentar hingga alkohol mengering
c)    Lakukan tusukan di ujung jari dengan lanset steril
d)    Usap tetesan darah pertama dengan kapas kering
e)    Lakukan tekanan perlahan-lahan kira-kira 1 cm di atas tusukan, lepaskan kembali agar darah mengalir. Ulangi lagi sampai darah yang dibutuhkan sudah terpenuhi kemudian darah dapat ditampung di tabung kapiler atau tabung mikro
f)     Tekan ujung tusukan dengan kapas atau kasa sampai perdarahan berhenti.
g)    Beri kode pada tabung berupa nomer urut, nama pasien serta tanggal pengambilan sampel.

Instruksi Kerja Pengambilan Darah Arteri

a.      Pengertian        :    Tata cara pengambilan sampel darah dari arteri pasien.
b.      Tujuan                :    Agar pengambilan darah arteri dapat dilakukan dengan baik dan benar.
c.      Kebijakan          :    Setiap analis yang melakukan sampling mampu melakukan pengambilan sampel darah arteri dengan baik dan benar.
d.      Instruksi Kerja   :    Pengambilan darah arteri membutuhkan petugas yang telah terampil atau telah dilatih. Lokasi pengambilan darah  arteri yang sering digunakan adalah arteri radialis di pergelangan tangan, arteri brachialis di fossa  antecibiti  dan arteri femoralis di lipatan paha. Untuk neonatus darah arteri dapat diambil dari arteri umbilicalis. Arteri yang akan dipunksi diidentifikasi dengan pulsasi dan dindingnya yang tebal. Jarum yang biasanya dipakai berukuran 12-30 G  untuk arteri besar dan 23-25 G untuk arteri kecil. Semprit sebelum dipakai harus dibilas dahulu dengan larutan heparin 20 µ/ml darah. Semprit plastik kurang baik digunakan untuk pengambilan darah arteri dibandingkan semprit gelas, karena alat penghisapnya tidak dapat naik ke atas waktu darah masuk ke dalam semprit. Beberapa jenis plastik juga permeabel terhadap gas. 

1)    Tentukan daerah pengambilan arteri dengan palpasi, kemudian desinfeksi daerah tersebut dengan alkohol 70%
2)    Fiksasi arteri dengan jari telunjuk proksimal dari daerah yang akan dipunksi
3)    Tusukkan semprit (dengan lubang jarum menghadap ke atas) pada permukaan kulit kira-kira 5-10 mm sebelah distal dari jari telunjuk yang memfiksasi arteri
4)    Bila memakai semprit gelas, masuknya semprit ke dalam arteri ditandai dengan naiknya darah ke dalam semprit mendorong alat penghisap ke atas
5)    Bila memakai semprit plastik, tariklah alat penghisap semprit perlahan-lahan sampai tercapai volume darah yang dikehendaki
6)    Tariklah jarum dan tekanlah bekas tusukan dengan kapas kering minimal 5 menit. Ujung semprit harus segera diberi penutup karet. Tidak diperbolehkan menekuk ujung semprit sebagai ganti penutup karet
7)    Campur darah dan antikoagulan dengan cara memutar semprit searah dengan sumbu panjangnya dengan kedua telapak tangan
8)    Untuk transportasi ke laboratorium, semprit dimasukkan ke dalam es dan darah harus segera diperiksa dalam waktu 15 menit.

Instruksi Kerja Pengambilan Sampel Sputum BTA

a.      Pengertian        :    Tata cara pengambilan sampel sputum untuk  pemeriksaan  BTA ( Basil Tahan Asam)
b.      Tujuan                : Agar pengambilan sampel sputum dapat dilakukan dengan baik dan benar, serta diperoleh sampel yang representatif
c.      Kebijakan          :    Setiap sampel sputum diberi identitas sampel 1,sampel 2, dan sampel 3
d.      Instruksi Kerja   :
1)    Pengambilan Sputum Sewaktu
a)    Hanya dilakukan sekali pengambilan dahak
b)    Pasien disuruh mengeluarkan dahak di kamar mandi
c)    Dahak atau sputum ditampung pada pot dan ditutup
d)    Sputum yang ada dikirm ke bagian bakteriologi bersama surat pengantarnya
2)    Pengambilan Sputum SPS (Sewaktu, Pagi, Sewaktu) 3x
a)    Pasien diberi arahan cara mengeluarkan dahak bukan air liur
b)    Pot atau cup diberi label 1, 2, 3 dan nama pasien
c)    Sputum ditampung pada pot pagi hari, sewaktu dan pada saat hendak mengirim sampel ke laboratorium
d)    Sputum yang dikirim ke bagian Mikrobiologi bersama surat pengantarnya

8/27/14

clonorchis sinensis

Taksonomi
Kerajaan: Animalia
Phylum: Platyhelminthes
Class: Trematoda
Subordo: Opisthorchiata
Famili: Opisthorchiidae
Genus: Clonorchis
Species: Clonorchis sinensis
Penyebaran
Clonorchis Sinensis ditemukan terutama di Asia timur dan selatan juga di Asia Pasifik.Cacing ini menyebar di berbagai negara seperti China, Korea, Vietnam, Taiwan, jepang, dan lain-lain. Penyakit yang di temukan di indonesia bukan infeksi autokon.
Habitat
Dalam daur hidupnya Clonorcis sinensis mempunyai dua hospes parantara dan hospes definit.Hospes perantara pertamanya bekicot terutama Parafossarulus manchouricus,spesies dari genus Bulinus ,Bythinia,Semisulchospira,Alocinna,Tiara.Hospes perantara kedua nya adalah ikan air tawar dari genus Cyprinidae. Cacing dewasa hidup pada saluran empedu manusia Ductus choleductus,manusia adalah hospes definitif dari cacing ini. Selain manusia hospes definitif dari cacing Clonorchis sinensis bisa juga hewan-hewan karnifora yang memakan ikan yang terinfeksi meta serkaria Clonorchis sinensis.
Morfologi
Telur
Telur berbentuk oval seperti kendi operkulum besar ,bagian posteriornya menebal dan biasanya ada tonjolan kecil.Telur berisi mirasiduim,ukuran telur 25-35 X 12-19 mikron,dan warna telur kuning.
Larva
Dalam siklus hidupnya setelah keluar dari telur cacing Clonorchis sinensis berkembang berturut-turut menjadi beberapa bentuk larva mirasidium(berenang di air);sporokista,redia,serkaria(dalam tubuh tubuh bekicot);Metaserkaria(dalam tubuh ikan dan hospes definitif).
Mirasidium
Berbentuk oval dan memiliki silia(rambut getar).
Sprokokista
Berbentuk kantong dan mengandung sel-sel germinal .Sel-sel germinal membentuk membentuk sporokista generasi kedua atau redia.
Redia
Berbentuk kantong,memiliki faring yang nyata dan usus rudimenter.Mengandung sel germinal yang akan berkembang menjadi redia generasi kedua atau serkaria.
Serkaria
Berwarna coklat,berekor,memiliki dorsal dan ventral sirip untuk bergerak, bintik mata yang berfungsi sebagai alat sensori,dan kutikula dengan duri-duri kecil.
Metaserkaria
Meta serkaria merupakan stadium larva berbentuk kista berkembang.Kista memiliki dinding yang sangat tebal organ larva seperti bintik mata,ekor dan stiletnya telah hilang.
Cacing dewasa
Cacing pipih berbentuk daun.Bagian posteriornya membulat dan pada integumenya tidak ditemukan duri.Ukuran cacing dewasa 10-25 X 3-5mm.Batil isap kepala lebih besar dari pada batil isap perut.Testis berlobus dalam tersusun membentuk tandem dan terletak dibagian posterior tubuh .Ovarioum terletak dibagian anterior testis pada bagian tengah tubuh .porus genital di depan dakat batili sap perut,uterus berisi telur bermuara pada porus genital.Filtelaria membentuk folikel-folikel lembut dan ter letak di lateral tubuh.
Siklus Hidup
Telur akan menetas dan mengeluarkan mirasidium bila termakan hospes perantara I keong air.Dalam keong air akan berturut-turut berkembang menjadi sporokista ridia I,redia II,dan serkaria.Serkaria keluar keluar dari keong air dan mencari hospes perantara II(famili Cyprinidae).Serkaria menembus hospes perantara dua dan melepaskan ekornya .Dalam tubuh hospes perantara II serkaria membuntuk kista yang disebut metaserkaria(bentuk infektif).Dalam duodenum metaserkaria pecah kemudian mengeluarkan larva dan kemudian masuk kedalam saluran empedu.Setelah satu bulan didalm saluran empedu,larva berkembang menjadi dewasa.
Aspek klinis
Penyakit yang disebabkan oleh cacing Clonorchis sinensis adalah
klonorkiasis.Gejala yang dialami penderita adalah akibat rangsangan mekanik dan sekresi toksin oleh cacing Clonorchis
senensis.pada awal infeksi terjadi leukositosis ringan dan eosinofilia.Apabila terjadi hiper infeksi dari cacing yang banyak maka dapat menimbulkan sirosis,tubuh lemah,ikterus,anemia,berat badan menurun,edema,gangguan pencernaan,rasa tidak enak dibagian epigastrus dan diare.Pada beberapa kasus,penderita meninggal karena daya tahan tubuh menurun drastis sehingga timbul infeksi sekunder sebagai penyakit tambahan.Pada infeksi ringan,prognosis baik walaupun tidak diobati.Pada kasus kronis di daerah hiperendemis,prognosis kurang baik.
Diagnosis
Diagnosis ditegakan dengan menemukna telur dalam tinja dan cairan duodenum.Pada daerah endemis yang penduduknya gemar memakan ikan mentah,diagnosa klinis dapat diduka apabila penderita mengalami hepatomegali dan hepatitis.Apabila terjadi infeksi lanjutan harus dapat dibedakan denagn tumor ganas dan sirosis hati.
Pengobatan
Obat yang bisa diberikan pada penderita klonorkiasis adalah prazikuantel.pada infeksi ringan dapat diberikan gentian violet,sedangkan pada infeksi berat dapat digunakan klorokuin.
Pencegahan
Pencegahan klonorkiasis yang paling sederhana yaitu memasak matang semua jenis ikan karena stadium infektif Clonorchis sinensis paling banyak terdapat pada ikan.Pada daerah endemis masyarakat dilarang untuk defekasi di sembarang tempat(khususnya di perairan)agar tidak tercemari tinja yang mengandung telur cacing ini.